Showing posts with label ARSITEKTUR. Show all posts
Showing posts with label ARSITEKTUR. Show all posts

Thursday, September 26, 2013

Energy Saving Tips Expel Hot Air

Home is a place where we take shelter and stay . We get the protection as well as comfort and ter , knya matahani rays and cold weather in the rain .The ideal air temperature inside the house ranges from 24 -26 degrees centigrade . Menasa residents would be uncomfortable if the air temperature in the room to be extreme .  
For example, if in the summer , it will feel stiflingly hot because the heat does not come out . The hot air is trapped due to opening too little room , are responsible for hat mi.Putty air conditioning could be the answer . But the use of air conditioning or air conditioner ( AC ) is not the right answer as a solution to save energy .Hot air can be mitigated by several factors such as : proper spatial planning , pengun aan angen fan platoon . avoid greenhouse effect , and planting greenery .Air circulation in the affected areaby the interior . Openness between spaces can make free air into water and space front to back . The notion of openness is cultivated spaces that are not constrained by the massive materials .Placement of large furniture , should not be placed in the middle of the room . should be sealed to the wall . 
 Limiting the room was arranged to allow air to pass through , for example with bamboo material .Normally . in hot weather conditions , hot temperatures will rise to the top and many gathered in the ceiling area . Use ceiling fans to be one solution . In addition to beautify the room . tool can function optimally mi sebaga heat repellent and ceiling area .Like a bum , the home also menghadapl kondis greenhouse effect . Conditions that make the hot air trapped because of exposure to heatsun . Transparent materials such as glass and large pohkarbonat generally make the condition occurs .For menghindana heat , try a transparent material is not exposed directly by matahani rays . It can mi aan pengun diseasata with barriers such as kiss - KEST . sunshade or canopy .Another solution in the form of laying greenery area home openings . besides the oxygen and results fotosintesanya . plants also bermanf aat sebagal absorbing solar radiation not only planting trees in halarnan home . but the area also needs it .The trick with high dengari meetakkan hejau plants around the window parallel to the window , to the type of plants that can dlpilih is • plants with dense leaves .By saving energl to expel hot air , is the first step to global pemnasan menguranga .

Tuesday, September 24, 2013

Arsitektur Perlindungan Dan Arsitektur Pernaungan

Arsitektur Pernaungan --->Arsitektur yang mensyaratkan adanya atap.
Arsitektur Perlindungan-->arsitektur yang mensyaratkan adanya atap dan dinding.

Arsitektur Pernaungan( Nusantara)
  • Orientasi keluar
  • Terhubung dengan lingkungan sekitar
  • Beratap dan  tidak berdinding

Arsitektur Perlindungan(Barat)
  • orientasi kedalam
  • tertutup dengan lingkungan sekitar
  • berdinding dan beratap

Arsitektur Nusantara--->Kolong = Pernaungan
                                             +
                                        Panggung = Perlindungan

Building Ecology

People and buildings are as intrinsically infused with nature as bees and their hives are with honey. Unfortunately the effects of our building industry are far less sweet. Unlike bees, whose produce is nourishing, the process of constructing and operating buildings often creates environmental outcomes that are not. Due to the non-ecological structure of the building industry and the historical lack of environmental awareness of many building professionals, the way buildings, built environments and the process of building have been created, has played a major role in the decline in Earth’s ecological health. Ecosystems are life-supporting systems and building that can be sustained by ecosystems rather than damage them is urgently required. The intent of this book therefore, is to provide a way of
extending the understanding of building from mere regard for the structure and material to include all of the natural systems with which all building is interdependent. It also extends the concept of the building professional from one who helps make a structure, to one who builds a system of relationships between ecosystems and human systems. In essence this book is designed as an introduction to a systems approach to thinking about building for people new to the fi eld of ecologically sustainable building.

Modern science is providing a far more detailed perspective of the way ecosystems function. This new knowledge is now beginning to be used by building professionals and the building industry in order to protect the life-supporting goods and services of ecosystems, and provide the basis for sustained life opportunity on Earth. Building Ecology presents approaches to gaining knowledge about the environmental infl uences of building in a holistic framework that helps students of building professions and practising professionals to:
• understand the interdependencies of buildings and nature;
• understand how building affects nature;
• understand what is and is not sustainable;
• understand how building can work with nature.

Sunday, September 01, 2013

Komposisi Pada Fasade Bangunan

Perkembangan fasade sebuah bangunan itu sendiri sangat bergantung pada perubahan-perubahan sosial budaya masyarakat. Keberagaman tampilan fasade bangunan merupakan modifikasi berbagai unsur desain yang dari waktu ke waktu mengalami transformasi. Menurut Ching (1979: 50-51) “Perlengkapan visual bentuk yang menjadi objek transformasi dan modifikasi bentuk elemen pada fasade bangunan meliputi sosok, ukuran, warna, tekstur, posisi, orientasi dan inersia visual.” Selain tradisi lokal, budaya luar melalui informasi yang didapat masyarakat memberikan pengaruh yang kuat terhadap pemilihan perlengkapan visual bentuk sehingga tampilan sosok, warna, ukuran, tekstur, dan lain-lain seringkali menggambarkan bagaimana kondisi serta trend apa yang sedang muncul pada saat desain fasade itu dibuat.
Untuk mengevalusai atau melakukan studi pada arsitektur fasade menurut DK Ching (1979): “Komponen visual yang menjadi objek transformasi dan modifikasi dari fasade bangunan dapat diamati dengan membuat klasifikasi melalui prinsip-prinsip gagasan formatif yang menekankan pada geometri, simetri, kontras, ritme, proporsi dan skala “
Geometri pada fasade yaitu gagasan formatif dalam arsitektur yang mewujudkan prinsip-prinsip geometri pada bidang maupun benda suatu lingkungan binaan, segi tiga, lingkaran, segi empat beserta varian-variannya.
Simetri yaitu gagasan formatif yang mengarahkan desain bangunan melalui keseimbangan yang terjadi pada bentuk-bentuk lingkungan binaan. Dibagi menjadi; simetri dengan keseimbangan mutlak, simetri dengan keseimbangan geometri, simetri dengan keseimbangan diagonal. Untuk membangun suatu keseimbangan komposisi, simetri harus jauh lebih dominan dari asimetri. Fasade harus memiliki „wajah-wajah‟ yang mencerminkan solusi terencananya yang berbeda tetapi tetap simetris di dalam diri mereka sendiri

(analog terhadap tubuh manusia). Tampak samping, seperti yang terlihat, dapat memainkan peran minor dalam menyeimbangkan tampak depan dan belakang. Kontras Kedalaman yaitu gagasan formatif yang mempertimbangkan warna dan pencahayaan kedalaman menjadi perbedaan gelap terang yang terjadi pada elemen fasade. Tingkat perbedaan dikategorikan menjadi 3; sangat gelap, gelap, terang.
Ritme yaitu tipologi gambaran yang menunjukan komponen bangunan dalam bentuk repetasi baik dalam skala besar maupun skala kecil. Komponen yang dimaksud dapat berupa kolom, pintu, jendela atau ornamen. Semakin sedikit ukuran skala yang berulang, dikategorikan ritme monoton, semakin banyak dikategorikan dinamis.
Proporsi yaitu perbandingan antara satu bagian dengan bagian lainnya pada salah satu elemen fasade. Dalam menentukan proporsi bangunan biasanya mempertimbangkan batasan-batasan yang diterapkan pada bentuk, sifat alami bahan, fungsi struktur atau oleh proses produksi. Penentuan proporsi bentuk dan ruang bangunan sepenuhnya merupakan keputusan perancang yang memiliki kemampuan untuk mengolah bentuk-bentk arsitektur, mengembangkan bentuk-bentuk geometri dasar dan sebagainya, yang tentunya keputusan dalam penentuan proporsi tersebut ada dasarnya.
Skala dalam arsitektur menunjukkan perbandingan antara elemen bangunan atau ruang dengan suatu elemen tertentu dengan ukurannya bagi manusia. Pada konteks fasade bangunan, skala merupakan proporsi yang dipakai untuk menetapkan ukuran dan dimensi-dimensi dari elemen fasade

Sunday, June 23, 2013

Perkembangan Gaya Arsitektur Mediterania Di Indonesia

Sebutan 'gaya arsitektur Mediterania' sebenarnya bukanlah berasal dari wilayah Mediterania sendiri karena wilayah tersebut bukan suatu negara atau suku yang menyebut dirinya satu. Sebutan ini justru muncul di tempat lain yang mengadaptasikan gaya-gaya arsitektur dari wilayah Mediterania. Sebagai contoh, di Indonesia terdapat gaya (style) yang disebut sebagai gaya arsitektur Mediterania. Sebutan ini menunjukkan hubungan dengan wilayah Mediterania dan unsur-unsur bangunan dan rupa yang digunakan pada  angunanbangunannya. Ini berarti, kata 'arsitektur Mediterania' memberi kesan 'seperti' bangunan-bangunan di Mediterania.

Gaya arsitektur Mediterania di Indonesia muncul sebagai style atau gaya. Gaya arsitektur Mediterania adalah suatu gaya utuh dengan unsur-unsur pembentuk yang sudah tertentu. Ketika kita menyebutkan 'gaya arsitektur Mediterania', maka bayangan tentang bangunannya mungkin akan sama, yaitu bangunan dengan gaya berciri khas lengkung, berpilar ,dan sebagainya.


Rumah tinggal bergaya arsitektur
Mediterania di Indonesia

Gaya Mediterania adalah gaya arsitektur yang hangat, nyaman, berhias (dekoratif), dan harmonis. Gaya ini hangat karena kebanyakan warna-warna yang digunakan adalah warna hangat seperti warna pastel, terakota, serta kuning dan oranye. Karakter nyaman diperoleh dari kesan gaya yang homy (seperti di rumah) yang kental dari bentukbentuk yang tidak kaku dan luwes. Berhias dalam gaya arsitektur Mediterania berarti adanya hiasan-hiasan yang ragamnya sangat banyak, seperti kolom yang dihias dengan tonjolan-tonjolan, bingkai kusen di pinggir jendela dan pintu yang memberi kesan mewah, dan sebagainya. Keharmonisan gaya arsitektur Mediterania dicapai melalui keselarasan penggunaan skema warna dan keselarasan gubahan geometri (bentuk dasar).

Arsitektur Mediterania

Apa yang telah kita ketahui sebagai wilayah ‘gaya’ arsitektur Mediterania adalah produk dari material gedung yang berhubungan dengan bahasa rakyat, karakter designnya yang menonjol dan ilusi romantis di masa lampaunya. Rumah Mediterania merupakan suatu bangunan yang telah menjadi tradisi dari suatu jaman yang telah berkembang pada daerah pesisir laut Mediterania. Rumah
tradisional Mediterania ini telah menjadi suatu bangunan yang menjadi / menyatu dengan lingkungan dan alam disekitarnya, sehingga bentuk rumah tradisional Mediterania yang pernah ada hingga saat ini merupakan proses adaptasi dari keadaan lingkungan dan alam sekitarnya.
 
Bentuk dasar dari rumah tinggal Mediterania ini dapat diketahui bahwa bentuk pada bangunan tersebut merupakan bentuk bangunan hasil dari penyesuaian dengan keadaan lingkungan serta iklim dan keadaan geografis pada negara – negara di sekitar laut Mediterania seperti negara – negara kawasan Eropa selatan. Seperti telah diketahui sebelumnya, bahwa keadaan geografis, iklim serta budaya pada masing – masing kawasan di sekitar pesisir laut Mediterania sangat berpengaruh pada bentukan arsitektur Mediterania sendiri.
 
Dari segi arsitektur, ada dua hal yang menonjol pada gaya bangunan di Laut Mediterania, yaitu perpaduan antara budaya Barat dan Timur serta gaya bangunan yang khas yang berlokasi di kawasan pesisir, yang dikelilingi pulaupulau. Secara keseluruhan bangunan bergaya Mediterania menciptakan kesan hangat, kokoh, tetapi tetap dinamis.

Wednesday, June 19, 2013

Logos, Ethos dan Pathos


Menurut Buchanan, sebagaimana dikutip Yuswadi Saliya (2003), ada tiga hal yang dapat dipakai sebagai rujukan dalam mengarahkan perhatian dalam kegiatan merancang/desain. Adapun ketiga hal tersebut adalah logos yang merupakan landasan pemahaman yang bersumber dari ranah teknologi, kedua adalah ethos, yang merupakan unsur pembentuk karakter, dan ketiga adalah pathos, sebagai unsur yang memberikan ruh ke dalam desain. Lebih lanjut Buchanan menegaskan bahwa desain membutuhkan logos, sebagai landasan teoretisnya, ethos sebagai landasan eksistensialnya, dan pathos sebagai unsur kejiwaan yang memberikan dimensi emosional.

Logos merujuk kepada konsistensi teoretis yang diujudkan kedalam unsur-unsurarsitektur, seperti ketepatan pemilihan sistem struktur dan pemilihan material, kesesuaian dimensi dan beban, besaran ruang dengan jalur sirkulasi di dalam bangunan, juga bentuk tinggi-rendah dan lebar-sempitnya atap. Ethos, seperti kritik Yuswadi Saliya terhadap karya rancang bangun para arsitek kiwari, dalam keputusan perolehan bentuk belum memiliki landasan eksistensial yang tegas, dan tidak memiliki karakter yang kuat.

Gubahan bentuk yang lahir belum melahirkan Gestalt yang utuh, alhasil hanya sekedar lahir dari tradisi geometri yang masih banal, dan belum terolah. Artinya, getaran emosional yang sering disebut di dalam teori arsitektur Barat sebagai style/langgam belum dapat dikenali. Hal ini, sedikit banyaknya, memang terkait dengan lembaga pendidikannya yang tak kunjung mampu merumuskan cita-citanya, kurang percaya diri (assertive), hingga tradisinya pun tak kunjung terbentuk (Saliya, 2003)

Globalisasi seperti yang disampaikan di awal tulisan, memberikan dampak positif dan negatif. Adalah sesuatu hal yang pasti bahwa, dengan munculnya kemajuan perkembangan teknologi informasi, pergeseran bahasa-sistem analog ke digital, ternyata telah mengguncangkan kemapanan bentuk yang selama ini dijadikan sebagai batu landasan kerja, tujuan akhir yang mudah dicirikan. Kini, dengan adanya dinamika yang cepat, bentuk menjadi sesuatu yang nisbi, dan tidak lagi mewakili gagasan keabadian, bentuk bukan lagi suatu terminal (tujuan akhir). Dapat dipastikan adalah hasilnya adalah ke-serba-tidak-pasti-an, yang masih perlu direspons dengan fleksibilitas yang tinggi. Sebagai konsekuensinya pendekatan-pendekatan dalam perencanaan/perancangan juga harus mempertimbangan dinamika tersebut dan bahkan ambivalensi dalam praktekpraktek rancang bangun (Ipsen, 1999). 

Dalam konteks urban (buldan), hal senada diungkapkan pula oleh arsitek pemikir Belanda Rem Koolhaas (1990) bahwa dikarenakan dinamika dan kompleksitas kehidupan berkota, desain arsitektur dan urban yang hanya terfokus kepada kaidah-kaidah komposisi dan sistem spasial tanpa memberikan solusi bagi persoalan nyata adalah sia-sia. Menurutnya, desain arsitektur dan urban tidak lain merupakan sebuah jalinan simulasi teatrikal dari ketidakpastian sendiri. Selain itu, desain arsitektur dan desan urban kontemporer tidak bisa hanya berorientasi kepada geometri dan struktur yang rigid, tetapi harus membuka peluang dan penafsiran baru dalam upaya pemanfaatan aset perkotaan secara berkelanjutan (Martokusumo, 2005). 

Jadi, pertimbangan dalam pemilihan (mendesain) bentuk tampaknya akan membutuhkan pemikiran dan perenungan yang lebih panjang. Dalam ranah logos, pertimbangan tersebut menjadi relatif lebih mudah, misalnya pertimbangan iklim (tropis), fungsi, dan pilihan terhadap material/bahan dan sistem struktur dan konstruksi bangunan. Mengapa? Karena pada umumnya telah berupa standar atau rumusan baku yang objektif. Sementara pertimbangan sosio-kultural sebagai bagian pembentuk ethos menjadi semakin rumit. Selanjutnya pathos, sebagai unsur pemberi ruh dapat membangkitkan keakraban atau malahan justru keasingan emosional, apalagi dalam konteks perbuahan/dinamika sosial yang cepat. 

Dapat diamati kemudian, bahwa geometri itu ternyata membutuhkan hubungan dengan tradisi yang bergumul dengan kehidupan sehari-hari yang lebih manusiawi. Artinya, desain itu harus menyentuh bumi, tidak lagi sekedar mengawangawang, seperti kebanyakan kelemahan desain arsitektur kontemporer, yang lebih kepada pemuasan diri (arsitek) sendiri. Dalam kegiatan rancang bangun/desain arsitektur kiwari geometri -sebagai bagian dari arsitektur dan juga sebaliknya- digunakan secara banal, karena selain tidak banyak arsitektur yang mengindahkannya, lebih banyak arsitektur yang dengan semena-mena menaklukannya; serta hanya sedikit arsitektur yang mampu mengendalikannya (Saliya, 2003).

Perkembangan selanjutnya, dipastikan desain arsitektur/seni bangunan kontemporer tidak dapat lepas dari warna isu-isu sosial-politik (misalnya, isu keberlanjutan, partisipatoris/populis, keberpihakan, universal design/design for all/barrier free design dll.) bahkan juga gender dan telaah-telaah pasca-kolonial. Artinya para arsitek dan perancang tidak dapat memalingkan mukanya dari persoalan-persoalan tersebut. Kecenderungan arsitektur zaman kiwari ini adalah “bentuk selesai tanpa menyertakan penghuni”, sebagai sebuah bangunan yang devoid of human being, yang mengesankan keinginan untuk mencapai nilai puitis yang kekal, dari diktum l’art pour l’art. Bagaimana pun bangunan/karya rancang bangun harus menyertakan penghuninya (Saliya, 2003).

Kembali kepada paradigma desain sebagai suatu disiplin pun harus mampu memperkaya kriteria dan wawasan kemanusiannya. Tendensi kepada sebuah gerakan elitis, memang sulit dan tidak dapat ditampik, dimana justru para arsitek justru sengaja membentuk enclave sendiri di tengah-tengah masyarakatnya. Jika seni bangunan kontemporer menjadi wacana, maka kritik tersebut perlu mendapat perhatian serius! 

Kriteria desain yang menyertakan kemajuan-kemajuan wawasan seperti itulah yang barangkali nantinya akan menyelamatkan profesi arsitek(tur) dari berbagai tuduhan dan ketidakadilan dan diskriminasi. Kenyataan tuduhan perusak lingkungan, pencipta segregasi, atau profesi yang tidak lebih parasit dari masyarakat perlu dibuktikan dengan karya rancang bangunan yang lebih humanis, membumi dan ramah lingkungan. Nampaknya, tradisi geometri yang Platonis perlu digeser menjadi lebih humanis. Nilai nilai puitis harus diberi pathos citarasa lokal, agar lebih berkarakter, dan berdiri tegak berdasarkan ethos kehidupan yang lebih nyata, lebih membumi, yang turut menjelaskan kedudukan seseorang di tengah masyarakatnya, tanpa menyimpang dari kebenaran logika.

Tuesday, June 18, 2013

Arsitektur Islami

Arsitektur Islam adalah gagasan dan karya arsitektur yang sesuai dengan pandangan dan kaidah-kaidah Islam tentang arsitektur dan tidak terbatas pada masjid saja. Jadi arsitektur Islam adalah karya arsitektur yang sesuai dengan pandangan Islami sehingga arsitektur yang memiliki pendekatan konsep Islam dikatakan sebagai arsitektur Islami. Tidak tertutup kemungkinan arsitektur Islam ditemukan dan berkembang di tempat yang pemeluknya nonmuslim atau sebaliknya. Jadi, arsitektur Islam bukan arsitektur yang berada di Arab atau bangunan peribadatan / masjid saja. Banyak pandangan-pandangan yang menyesatkan bahwa seolah-olah arsitektur Islam adalah bangunan masjid saja. Rumusan karya arsitektur Islam pada intinya bukan terletak pada perwujudan bentuk fisiknya, melainkan nilai hakiki dan semangat moralnya. Pandangan inilah yang hendaknya mendasari perwujudan karya arsitektur.

Secara garis besar, konsep arsitektur Islam merujuk pada ayat-ayat ‘Quraniyah’ (berasal dari Al-Quran) dan ‘Kauniyah’ (bentuk hukum alam). Jadi, arsitek harus mampu memenuhi The law of God dan ‘The Law of Nature’. Konsep arsitektur Islam adalah olahan yang mempunyai sifat tidak merusak alam dan harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Hal ini mengingatkan pada karya arsitektur tokoh arsitektur modern, Le Corbusier, dengan konsep “pilotis” yang memilih mengangkat bangunan sehingga kehadiran bangunan di atas bumi ini tidak merusak hijaunya rerumputan.

Tips Membangun Rumah


Rumah, Semua orang akan mengatakan sebagai tempat berlindung dari panas,dingin,hujan dan lainnya. Siapa yang tidak menginginkan sebuah rumah yang nyaman sebagai tempat berlindung,dengan bangunan sesuai dengan desain dan selera. bertambahnya jumlah anggota keluarga tentu akan bertambah juga aktifitas keluarga,jika jumlah ruang dinilai sudah tidakmampu memenuhi kebutuhan mungkin perlu dilakukan renovasi berupa penambahan ruangan. Namun yang paling utama adalah membangun rumah sesuai dengan kemampuan keuangan, bagaimana jika keuangan yang dimiliki sangat terbatas? belum kendala lainnya seperti kenaikan harga bahan bangunan? Memang cukup kompleks masalah untuk membangun rumah, namun jika pembangunan direncanakan terlebih dahulu dengan baik maka segala halangan ini dapat teratasi.

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam merencanakan pembangunan rumah, baik membangun rumah baru maupun merenovasi rumah:
Estetika: Rumah setidaknya memiliki sebuah keindahan dalam bentuk,tidak hanya pada pemiliknya saja namun orang lain yang melihatnya juga merasa nyaman. 
Ekonomis: Bentuk dan ukuran struktur rumah sangat berpengaruh dengan besarnya biaya yang dikeluarkan, penggunaan bahan bangunan yang baik dan berkualitas akan membuat rumah lebih tahan lama.
Fungsi : Bentuk struktur rumah sebaiknya disesuaikan dengan fungsi kebutuhannya. Semakin banyak ruang tidak hanya menambah biaya membangun saja, namun juga pada pemeliharaannya.
Struktur : Struktur yang kokoh dan kuat akan memberikan rasa nyaman bagi pemilik rumah.
Dari uraian diatas terlihat bahwa membangun rumah memang butuh perencanaan yang matang karena jika ada kesalahan, mungkin biaya yang dikeluarkan bias bertambah banyak.Bagaimana memulai pembangunan rumah yang baik? Ada beberapa langkah-langkah awal yang perlu diperhatikan dalam membangun rumah, namun justru sering dilupakan:
Diskusikan dengan keluarga tentang rencana pembangunan ini.
Hal ini mungkin sering dilupakan. Jika rencana anda sudah didukung oleh keluarga tentunya mereka memiliki keinginan yang berbeda, ini berguna agar dalam pembangunan nantinya tidak ada perubahan yang menambah biaya.
Hubungi arsitek yang anda kenal baik.
Sampaikan rencana anda karena mereka lebih menguasai bagaimana membangun rumah yang sehat dan nyaman. Tanyakan pada arsitek secara detail sehingga anda paham apa yang akan dikerjakan nanti, biasanya arsitek akan membuat estimasi anggaran yang akan dikeluarkan nantinya sesuai dengan gambar desain.
Cari info harga terbaru tentang bahan bangunan yang diperlukan.
Carilah informasi yang akurat, bias dari kenalan anda, rekan kerja dan informasi lainnya, mungkin cara ini cukup membuat anda kelelahan karna harus survey harga bahan bangunan, namun ini adalah hal yang sangat penting, mengingat harga bahan bangnan yang cukup variatif
Mengurus perizinan.
Perizinan dalam pembangun rumah disebut IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Jika bangunan anda kurang dari 200 m2 maka izin ini dapat diurus ditingkat kecamatan, namun jika luasnya lebih 200 m2 izin ini bisa sampai ketingkat walikota. Seluruh persyaratan dan formulir yang diperlukan sudah dipersiapkan dikantor kecamatan dan walikota, dan pastikan segala kelengkapan yang diperlukan dipersiapkan sebelumnya.

Sunday, June 16, 2013

Berpikir Kreatif dan Inovatif

Dalam proses perancangan seorang arsitek dituntut untuk selalu berpikir kreatif. Kreativitas yang dilakukan akan menghasilkan berbagai alternatif solusi pemecahan perancangan yang membawa sang arsitek pada desain yang dihasilkan. Berpikir kreatif sebagai persyaratan dalam proses perancangan arsitektural tersebut jika dilihat dari cara berpikir Islami memiliki semangat yang sama. Secara jelas Islam mensyaratkan bahwa yang menjadi dasar seorang muslim dalam berpikir dan bertindak bahwa dalam menerima sebuah pendapat atau informasi tidak boleh ‘Taqlid’. Taqlid artinya menerima sesuatu secara dogmatis, apa adanya, tanpa dimengerti terlebih dahulu, misalnya karena sudah menjadi kebiasaan atau memang sudah menjadi tradisi secara turun temurun. Seorang muslim harus selalu berpikir ke depan dan tidak terjebak pada hal-hal yang sudah menjadi tradisi. Hal ini akan merangsang orang untuk selalu terus menggali sesuatu yang baru. Pandangan ini diambil berdasarkan Al-Quran yang mengajak orang untuk berpikir, yang menyatakan bahwa ;

‘”Sesungguhnya Al-Quran diturunkan untuk orang-orang yang berpikir”

Berkaitan dengan proses pencarian dan penggalian gagasan perancangan arsitektur, Islam membuka pintu Ijtihad. Ijtihad artinya usaha sungguh-sungguh yang dilakukan seorang mujtahid (orang yang melakukan ijtihad) untuk mencapai suatu keputusan tentang kasus yang penyelesaian belum tertera dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist. Pintu ‘ijtihad’ yang terbuka lebar dalam Islam ini merupakan suatu teknik pemecahan masalah yang sangat sesuai dengan cara kerja seorang arsitek pada saat ia dihadapkan pada kasus perancangan yang pasti tidak selalu sama namun spesifik, tergantung fungsi, lokasi, dan lain-lain. Arsitek dan Ijtihad merupakan dua hal yang tidak terpisah, melalui pintu ijtihad seorang arsitek mempunyai kebebasan dalam menghasilkan produk yang excellent, inovatif, dan kreatif. Ijtihad ini berguna sebagai perangkat arsitek dalam berkreasi dan mengeluarkan inovasi-inovasi desain yang lebih kaya. Jadi sebenarnya perwujudan (bentuk) arsitektur sangat tergantung dari ijtihad arsitek yang bersangkutan. Arsitektur dan

ijtihad adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Proses kreatif mencari sesuatu yang baru dipacu oleh semangat Islami yang mengajak untuk selalu berpikir dan menggali permasalahan.
Salah satu pemikiran yang merupakan hasil ijtihad adalah masjid Salman Bandung berupa pemisahan zona laki-laki dan wanita di dalam masjid secara vertikal tidak secara horizontal dimana posisi laki-laki berada di depan dan wanita di belakang.
Sikap ijtihad ini diperkuat oleh ayat Al Quran dan Hadist yang menyatakan bahwa :

“….dan apabila suatu urusan itu urusan duniamu, maka engkaulah yang lebih berhak menentukannya (lebih mengetahui)” (HR. Bukhari)

“Dan bagi orang-orang yang menerima seruan Tuhan dan mendirikan shalat, sedangkan urusan mereka diputuskan secara musyawarah antara mereka, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka” (Al Quran 42 : 38).
Dengan demikian, jika mengambil mentah-mentah dari apa yang sudah ada sebelumnya tanpa dimengerti (taqlid) adalah sesuatu yang dilarang dalam agama Islam pada akhirnya akan memacu seseorang untuk berkreasi dan berinovasi, mencari solusi yang mutakhir, tidak sekedar meniru. Begitu pula di dunia arsitektur, sebetulnya sangat tidak dibenarkan seorang arsitek dalam berkarya bersikap seperti itu. Sikap seperti itu merupakan penyimpangan dari kaidah-kaidah etika dan pelanggaran tatalaku moral seorang arsitek. Akan tetapi, apabila hasil desain sama dengan yang sudah ada sebelumnya itu bukan dari hasil meniru, tetapi berdasarkan pemikiran yang mendalam maka sah-sah saja, Artinya hasil rancangan arsitektural memiliki landasan dan alasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
.Sikap yang tidak membolehkan manusia bersikap taqlid ini tercantum dalam ayat sebagai berikut :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Al Quran 17 :36)
“Dan apabila dikatakan kepada mereka : ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’, mereka menjawab :”Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. (‘Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu idak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk ?”
(Al Quran 2 : 170)

Konsep pemikiran Islami di atas sejalan dengan konsep arsitektur modern yang anti tradisi dan memiliki semangat jaman (zeitgeist) sehingga perpaduan konsepsi pemikiran tersebut membawa pada sebuah konsep desain yang baru.

Thursday, May 30, 2013

Arsitektur Nusantara Melayu

Ada apa dengan arsitektur Melayu? Adakah arsitektur Melayu tersebut? Jika ada, dimana kita untuk bisa membaca dan melihatnya? Itulah di antara sederet   pertanyaan yang mungkin bisa digayutkan jika berbicara arsitektur Melayu. Kenapa? Karena minimnya tulisan-tulisan yang membahasnya. Sangat sukar mencari referensinya. Bisa dihitung dengan jari buku-buku dan tulisan mengenainya.

Keadaan ini tentu sangat kontras dengan arsitektur Barat, atau lebih tepatnya arsitektur Eropa. Sangat banyak buku-buku dan referensi mengenainya, dan    termasuk mata kuliah wajib bagi mahasiswa arsitektur di Tanah Air.

Akibatnya, secara perlahan dan pasti arsitektur Melayu semakin tergerus dan menghilang. Arsitektur Barat yang diidentikkan dengan kemajuan dan simbol modernitas semakin mengambil alih dan mewarnai corak dan bentuk bangunan di Tanah Air, termasuk di Riau. Yang lebih memprihatinkan, gedung-gedung pemerintahan dan badan usaha milik daerah (BUMD) yang semestinya dapat menjadi benteng terakhir dalam menjaga ciri khas kemelayuan juga semakin terkikis dan mengalami erosi. 

Dalam konteks ini mungkin kita bisa belajar dari Bali. Hampir seluruh bangunan pemerintah dan termasuk bangunan milik individu dan swasta bercirikan arsitektur Bali. Kenapa ini bisa wujud? Karena adanya tekat dan komitmen tinggi pemerintah Bali untuk menjaga nilai-nilai dan tradisi tempatan. Lebih menarik lagi, bangunan-bangunan komersial, pemerintah maupun milik individu ketinggiannnya tidak boleh melebihi tinggi Pura (baca: pure) yang merupakan tempat ibadah masyarakat Bali. Bali juga memiliki begitu banyak Desa Adat, yang mencirikan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal masyarakat Bali. Coba bandingkan   dengan situasi kekinian di Bumi Lancang Kuning, Provinsi Riau adakah kampong Melayu atau kampong tradisi atau  kampong adat di Pekanbaru misalnya?
Sejatinya, arsitektur Nusantara yang begitu banyak dan beragam, tersebar dari Sabang hingga Merauke, Papua, termasuk arsitektur Melayu memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki aristektur Barat. Permasalahannya, arsitektur Nusantara harus dipelajari dan digali, karena minimnya tulisan-tulisan dan dokumen mengenainya. Dia ada, tapi masih tersimpan dan tersembunyi. Berbeda dengan aristektur Barat yang  begitu  banyak contoh dan buku-bukunya. Sangat  mudah dan praktis, tinggal copy paste saja.

Apakah kita siap dan bersungguh-sungguh untuk mempelajari dan menggalinya? Apakah masih ada kegairahan untuk mengembalikan kejayaan Melayu   tempo dulu yang diagung-agungkan? Maukah kita membongkar ketololan dan kebodohan kita? Dalam seminar nasional Arsitektur Nusantara dengan tema  “Ruang Bersama untuk Kehidupan yang   Lebih Baik” di Universitas Brawijaya, Malang yang saya hadir mempresentasikan makalah mewakili Universitas Islam  Riau, terdapat hal menarik apa yang disampaikan Prof Josef  Prijotomo dari  Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya sebagai keynote speaker. 

Beliau menyampaikan makalah  dengan tema “Membongkar Ketololan dan Kemalasan dalam Menuju Indonesia”. Inti dari pemaparanya adalah bahwa    arsitektur Nusantara sebenarnya  setanding dengan arsitektur Barat.Beliau   memaparkan 12 perbedaan arsitektur  Nusantara berbanding arsitektur Barat.   Walaupun apa yang Beliau sampaikan,  mungkin tidak sepenuhnya benar yang dapat lagi dipersoalkan kepatutannya. Namun yang jelas bahwa arsitektur Nusantara ada content-nya dan  bernilai  tinggi, yang layak untuk disandingkan dengan arsitektur Barat.

12 Perbedaan Arsitektur Nusantara dan Eropa
Pertama, arsitektur Nusantara itu arsitektur dua musim dan arsitektur Eropa itu arsitektur empat musim. Kedua, arsitektur Nusantara melibatkan lautan dan daratan, sedang arsitektur Eropa hanya melibatkan daratan saja. Ketiga,  arsitektur Nusantara tidak mematikan karya arsitektur anak-bangsanya, sedang arsitektur Eropa mematikan arsitektur anak-benua/bangsanya. Benua Eropa terbentuk dari demikian banyak bahasa anak-benuanya, tetapi dalam arsitekturnya hanya menggunakan ‘bahasa latin’ arsitektur saja.

Keempat, arsitektur Nusantara adalah arsitektur pernaungan dan arsitektur Eropa adalah arsitektur perlindungan. Kelima, arsitektur tradisional dilekatkan pada kebudayaan sedang arsitektur Eropa dilekatkan pada seni dan ilmu. Keenam, arsitektur Nusantara adalah arsitektur kayu/organik sedang arsitektur Eropa adalah arsitektur batu/anorganik. Ketujuh, arsitektur Nusantara bersolek di (tampang) luar dan arsitektur Eropa bersolek di (tampang) dalam. Kedelapan, arsitektur Nusantara berkonstruksi tanggap gempa sedang arsitektur Eropa berkonstruksi tanpa gempa.

Kesembilan, arsitektur Nusantara menjadikan perapian utamanya untuk mengawetkan bahan bangunan organiknya, sedang arsitektur Eropa  guna menghangatkan ruangan dan menjadikan galih (core) dari huniannya. Kesepuluh, arsitektur arsitektur Nusantara mengkonsepkan pelestarian dengan ketergantian, sedang arsitektur Eropa mengonsepkannya sebagai menjaga dan merawat. Kesebelas, arsitektur Nusantara mengkonsepkan kesementaraan sedang arsitektur Eropa mengkonsepkan keabadian. Keduabelas, arsitektur Nusantara adalah arsitektur kami/kita, sedangkan arsitektur Eropa adalah arsitektur ’aku’.

Di akhir pemaparannya Prof Josef  dengan sedikit geram menyimpulkan bahwa pertama, sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah wilayah pengetahuan yang tidak (mau) diketahui, dan arsitektur Eropa adalah wilayah pengetahuan yang wajib diketahui dan dituruti.

Kedua
, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara dibiarkan remuk di perdesaan, sedang arsitektur Eropa diperjuangkan berdarah-darah untuk dipertahankan keberadaannya .

Ketiga
, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara masih harus dipelajari agar bisa di-masakini-kan, sedang arsitektur Eropa tinggal di-copas (copy paste) belaka.

Keempat
, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara itu adalah ’bicycle shed’ sedang arsitektur Eropa adalah ’Lincoln Cathedral’, kalau meminjam Nikolaus Pevsner dalam membedakan arsitektur dari bangunan.

Kelima, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara senantiasa dipertanyakan kemampuannya untuk mengkini, sedang arsitektur Eropa tak pernah dipertanyakan ketidaktepatannya bagi Indonesia (masakini).

Kesimpulan Beliau: arsitektur Nusantara itu adalah liyan bagi arsitektur Eropa; arsitektur Nusantara itu adalah arsitektur yang lain (the other) dari arsitektur Eropa. Arsitektur Nusantara itu setara dengan arsitektur Eropa Klasik..



Apriyan D Rakhmat
Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik  UIR 

sumber riaupos.co

Saturday, May 25, 2013

Seni Arsitektur Islam


Islamic achitecture atau arsitektur Islami merupakan arsitektur yang memiliki sifat-sifat Islam. Bisa jadi yang termasuk arsitektur Islami adalah arsitektur yang bukan berasal dari Islam, namun karena sejalan dengan konsepsi Islam yang tertera dalam Al Quran dan Al Hadits, maka arsitektur tersebut disebut arsitektur Islami.

Seni adalah produk aktivitas yang dilakukan secara sadar yang bertujuan untuk mendapatkan atau mencapai nilai estetika. Karena itu, seni seringkali berkonotasi estetika atau keindahan. Bicara tentang seni, maka akan meliputi pembahasan yang luas. Seni juga terbagi dalam beberapa jenis seperti seperti seni musik, seni sastra, seni pahat dan ukir, seni tari, seni suara, seni arsitektur dan sebagainya.
Dalam konsep Islam, Allah merupakan pusat dari nilai-nilai estetika ini. Allah menyukai keindahan dan menciptakan segala sesuatu dengan indah menurut porsinya. Tujuan kesenian dalam konsep Islam adalah sama dengan tujuan hidup seorang Muslim, yakni pencarian kebahagiaan material dan spiritual di dunia serta akhirat di bawah naungan keridhaan Allah swt. Seni Islam diabadikan pada tujuan hidup manusia Muslim yang senantiasa mencari ridha Allah. Karena itu, konsep-konsep seni Islam lebih bersifat teosentrik, berbeda dengan konsep-konsep seni non-Islam yang bersifat antroposentrik.

Arsitektur (architecture) sebagai bagian dari seni, merupakan seni atau ilmu yang berkaitan dengan desain dan pembuatan sebuah bangunan. Arsitektur dalam bahasa Arab biasa disebut `umran, bunyan, yang artinya bangunan atau gedung. Untuk seni arsitektur atau teknik bangunan disebut “handasah al-mi`mar”. Sementara al-muhandis adalah sebutan bagi seorang arsitek, pembuat bangunan atau seseorang yang ahli geometri. 

Dilihat dari defenisinya, arsitektur Islam ialah arsitektur yang dibuat untuk dan oleh orang Islam untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT, juga menunjukkan keterikatan makhluk dengan khaliknya, baik yang mempunyai fungsi keagamaan maupun fungsi sekuler, yang dihasilkan di negeri-negeri Islam. Arsitektur yang memiliki fungsi keagamaan, misalnya masjid, madrasah, makam dan bangunan-bangunan yang dijadikan sebagai tempat ibadah. Sementara yang memiliki fungsi sekuler, seperti istana, rumah, benteng dan sebagainya. Istilah yang analog untuk menyebutkan jenis-jenis tersebut ialah bangunan yang bersifat sakral dan bangunan yang bersifat profan.

Nilai-nilai spriritualitas dalam arsitektur Islam biasanya diimbangi dengan nilai-nilai estetika yang dimilikinya. Sebuah kolaborasi yang baik antara keindahan lahiriah dengan nilai-nilai batiniah yang terdapat di dalamnya, menjadikan arsitektur Islam sebagai salah satu yang terbaik dalam jajaran pengembangan arsitektur-arsitektur lainnya di luar Islam. Mengenai hal ini, kidwai menjelaskan: “Bangunan Islam adalah contoh terbaik perpaduan dari berbagai perbedaan ekspresi estetika dalam sebuah pandangan yang luas. Berbagai macam pengembangannya tetap berada di bawah satu payung dari seni bangunan Islam. Tiap-tiap arsitekturnya memiliki keistimewaan tersendiri, namun semuanya menyatu pada level yang terkemuka sebagai sesuatu yang islami, di mana pun saja di dunia ini.”

Sumber Aneka Ragam MAKALAH
Sumber Gambar nomadinception.com

Monday, May 20, 2013

10 Alasan Untuk Menunjuk Seorang Arsitek

1. Estetika.Seorang arsitek berkaitan dengan masalah estetika, memanipulasi proporsi, keberpihakan, massa, volume dan bahan untuk membuat masuk akal, bangunan menyenangkan yang dapat dinikmati oleh penghuni serta masyarakat.2. Biarkan untuk selera Anda dan persyaratan.Seorang arsitek akan mencoba dan masuk ke dalam jiwa klien untuk membaca apa yang mereka inginkan dan dengan menyesuaikan desain dengan gaya dan persyaratan dalam cara yang cerdas unik mereka tanpa berusaha untuk memaksakan selera dan preferensi nya sendiri.3. Keseluruhan pemahaman proyek.Arsitek yang terlibat dari awal proyek berada dalam posisi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan khusus Anda dan mengembangkan solusi yang unik dan mengusulkan cara-cara untuk mengurangi biaya.

 
4. Biaya efisien.Seorang arsitek yang dikenal dengan biaya produk yang efisien baik tersedia di pasar dan tahu bagaimana merencanakan dalam anggaran Anda untuk memastikan Anda mendapatkan nilai terbaik untuk uang dan peralatan berkualitas baik.

 

 5. Kode bangunan dan hukum.Arsitek yang akrab dengan kode bangunan lokal dan oleh hukum dan proyek Anda akan mematuhi semua peraturan bangunan dan peraturan zonasi bangunan lingkungan. Ia juga dapat membantu proyek Anda melalui proses perijinan pembangunan.6. Saran Kontraktor.Seorang arsitek dapat merekomendasikan kontraktor yang mungkin cocok untuk proyek pembangunan tertentu. Dia mungkin juga terlibat dalam koordinasi tim konsultan spesialis untuk memastikan kelangsungan keseluruhan menjadi dari produk akhir.7. Rencana untuk masa depan.Seorang arsitek dapat melihat melampaui persyaratan langsung Anda untuk merancang rumah Anda untuk bisa beradaptasi dan memperluas jika diperlukan untuk perubahan kebutuhan keluarga Anda.8. Fungsi.Arsitek menciptakan rumah yang menyenangkan dan fungsional bagi mereka yang menggunakan atau tinggal di dalamnya. Seperti penjahit profesional desain untuk memperhitungkan kebutuhan khusus account dan lokasi.

 

 9. Lingkungan.Rumah yang dirancang oleh arsitek akan peka terhadap lingkungan sekitarnya dan akan menggunakan semua unsur-unsur alam, topografi atau pendapat terhadap penggunaan terbaik dari situs dalam kebutuhan klien tertentu.

 

 10. Manajemen proyek.Arsitek dapat mengelola proyek Anda dari situs memilih untuk penyelesaian terus memberikan saran atau solusi untuk pilihan Anda sebagai wajah klien, menghemat waktu berharga dan memberi Anda ketenangan pikiran.


Sumber www.cad-architect.net
Posting Lama ►
 

Copyright 2013 Jendela Arsitektur Desain: ARSITEKTUR Template by CB Blogger Template. Powered by Blogger