Thursday, May 16, 2013
9:04 PM

Free Will dan Predestination



 Pengertian “Free Will dan Predestination”
Free will = Kebebasan Berkehendak
Menurut para filosof, free will ini adalah “kapasitas tertentu dari pola pikir rasional untuk memilih sejenis tindakan dari berbagai alternatif atau pilihan-pilihan yang ada”. Atau “kemampuan pola pikir untuk membuat pilihan atau memilih satu dari banyak pilihan”.
Para psikolog menguraikan arti free will sebagai seperangkat kemampuan internal untuk mengontrol perilaku individu. Dengan kata lain, sisi dalam manusia (akal manusia) yang berperan membuat pilihan-pilihan rasional.
Predestination=Takdir
Kata takdir diderivasi dari bahasa Arab qaddara yuqaddiru taqdîran, yang berarti menaksir atau mengira. Dalam dalam akidah Islam biasanya kata taqdir disandingkan dengan  kata qadâ‘ dan lebih sering disebut qadâ‘ dan qadar
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa takdir terambil dari kata qaddara,
berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran. Dicontohkan jika dikatakan bahwa Allah telah menakdirkan demikian, maka berarti Allah telah memberi kadar, ukuran, atau batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk­Nya

KH Taib Thahir setelah melihat penggunaan kata qada’ dalam Al-Qur’an mengartikan qada’ dengan hukum yang ditetapkan tuhan sejak zaman azali mengenai segala apa yang akan terjadi. Qadar diartikan dengan merancang dan merencanakan sesuatu dengan perhitungan paling mendalam dan teliti.

Konsep Free Will dan Predestination Dalam Perspektif Aliran Teologi
Dalam konteks teologi islam, kebebasan manusia merupakan ideologi yang dianut oleh paham Qadariyah yang memberikan pandangan hanya manusialah yang menciptakan perbuatannya sendiri tanpa ada intervensi dari pihak luar termasuk Tuhan sendiri. Posisi Tuhan hanya terbatas pada penciptaan sifat/daya kebebasan manusia tersebut.
Hal ini berbanding terbalik dengan Jabariyah, Menurut paham Jabariyah, perbuatan manusia itu bukan diciptakan oleh manusia. Melainkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bagi kelompok ini, manusia tidak bisa berbuat apa-apa, manusia tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perbuatan. Manusia hanyalah dikendalikan Allah subhanahu wa ta’ala . Maksudnya bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan.

  Aliran Mu’tazilah
Kaum Mu’tazilah, karena dalam sistem teologi mereka manusia dipandang mempunyai daya yang besar lagi bebas, sudah barang tentu manganut paham qadariah atau free will. Dan memang mereka juga disebut kaum Qadariah. Begitupula keterangan dan tulisan-tulisan para pemuka Mu’tazilah banyak mengandung paham kebebasan dan berkuasanya manusia atas perbuatan-perbuatannya.Al Juba’i umpamanya, menerangkan bahwa manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatnnya. manusia berbuat baik dan buruk, patuh dan tidak patuh kepada Tuhan atas kemauannya sendiri. Dan daya (al istita’ah) untuk mewujudkan kehendak itu telah terdapat dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan. Pendapat yang sama diberikan pula oleh “abd al-Jabbar. Perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia. Manusia adalah manusia yang dapat memilih.

Untuk memperkuat paham di atas, kaum Mu’tazilah membawa argumen-argumen rasional dan ayat-ayat al-Qur’an.Ringkasan argumen-argumen rasional yang dimajukan oleh ‘Abd al-Jabbar umpamanya, adalah sebagai berikut. Manusia dalam berterima kasih atas kebaikan-kebaikan yang diterimanya, menyatakan terima kasihnya kepada manusia yang berbuat kebaikan itu. Demikian pula dalam melahirkan perasaan tidak senang atas perbuatan-perbuatan tidak baik yang diterimanya, manusia menyatakan rasa tidak senangnya kepada orang yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tidak baik itu. Sekiranya perbuatan-perbuatan baik atau buruk adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia, tentunya rasa terima kasih dan rasa tidak senang itu akan ditujukan manusia kepada Tuhan dan bukan kepada manusia.

Aliran Asy’ariah
Menurut aliran Asy’ariyah, faham kewajiban Tuhan berbuat baik dan terbaik bagi manusia (ash-shalah wa al-ashlah), sebagaimana dikatakan aliran Mu’tazilah, tidak dapat diterima karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Hal ini ditegaskan al-Ghazali ketika mengatakan bahwa Tuhan tidak berkewajiban berbuat dan yang terbaik bagi manusia. Dengan demikian aliran Asy’ariyah tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat bebuat sekehendak hati-Nya terhadap makhluk. Sebagaimana yang dikatakan al-Ghazali, perbuatan Tuhan bersifat tidak wajib (Ja’iz) dan tidak satu pun darinya yang mempunyai sifat wajib.

Karena percaya kepada kekuasaan mutlak Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban apa-apa, aliran Asy’ariyah menerima faham pemberian beban di luar kemampuan manusia, Asya’ari sendiri dengan tegas mengatakan dalam al-Luma, bahwa Tuhan dapat meletakkan beban yang tidak dapat dipikul pada manusia. Menurut faham Asy’ariah perbuatan manusia pada hakitkatnya adalah perrbuatan tuhan dan diwujudkan dengan daya Tuhan bukan dengan daya manusia, ditinjau dari sudut faham ini, pemberian beban yang tidak dapat dipikul tidaklah menimbulkan persoalan bagi aliran Asy’ariah, manusia dapat melaksanakan beban yang tak terpikul karena yang mewujudkan perbuatan manusia bukanlah daya manusia yang terbatas, tetapi daya Tuhan yang tak terbatas.

Aliran Maturidiyah
Mengenai perbuatan Allah ini, terdapat perbedaan pandangan antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara. Aliran Maturidiyah Samarkand, yang juga memberikan batas pada kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, mereka berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja, dengan demikian Tuhan berkewajiban melakukan yang baik bagi manusia. Demikian halnya dengan pengiriman Rasul Maturidiyah Samarkand sebagai kewajiban Tuhan.
Adapun Maturidiyah Bukhara memiliki pandangan yang sama dengan Asy’ariyah mengenai faham bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh al-Bazdawi, bahwa Tuhan pasti menepati janji-Nya, seperti memberi upah orang yang telah berbuat kebaikan. Adapun pandangan Maturidiyah Bukhara sesuai dengan faham mereka tentang kekuasaan Tuhan dan kehendak mutlak Tuhan, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin saja.

Aliran Syi’ah
Al-Asy’ari dalam bukunya, Maqaalaat al-Islamiyyiin  wa ikhtilaf al-Mushallin, menyebutkan beberapa pendapat Syi’ah Rafidhah tentang masalah perbuatan manusia. Sediktinya ada tiga pendapat yang berbeda-beda. Pertama; Ialah para pengikut Hisyam bin al-Hakam al-Rafidhi, di mana mereka beranggapan bahwa perbuatan seorang hamba Allah itu diciptakanNYa. Ja’far bin Harb menceritakan, bawa Hisyam bin al-Hakam menyatakan: “sebenarnya dari satu segi perbuatan manusia ini merupakan daya (ikhtiyar) manusia itu sendiri, karena dia itulah yang menghendaki dan mengusahakannya, tetapi dari segi lain perbuatan manusia ini pun merupakan sesuatu yang dipaksakan Allah terhadap dirinya, karena perbuatan manusia itu sebenarnya mustahil terjadi selain dengan adanya sebab yang menggerakkan ataupun mendorong kearah terjadinya perbuatan manusia tersebut. Pendapatnya ini mirip dengan aliran Maturidiyah. Karenanya, Fazlur Rahman menyebut ide Hisyam bin Hakam ini sebanding dengan pandangan Maturidi. Kedua; kelompok ini beranggapan bahwa manusia itu tidak bebas dan selalu dalam keadaan terpaksa, sebagaimana anggapan para pengikut aliran jahmiyyah, tetapi manusia itu pun tidak boleh hanya berserah diri saja, sebagaimana anggapan para pengikut aliran Mu’tazilah. Ketiga; yang ketiga ini beranggapan bahwa perbuatan hamba Allah itu bukan diciptakan  Allah. Yang beranggapan seperti ini, kata Asy’ari, muncul dari mereka yang memisahkan diri serta menetapkan adanya kepemimpinan.Yang terakhir ini memiliki kemiripan dengan teologi Mu’tazilah

Pandangan Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah adalah tokoh refresentatif Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Karenanya, Bagi Ibnu Taimiyah, baik Asy’ariyah maupun Mu’tazilah telah melakukan kekeliruan dan menyalahi mayoritas muslim. Asy’ariyah hanya menegaskan irada (kehendak Allah), tetapi tidak menegaskan kebijaksanannya. Asy’ariyah hanya menegaskan segala kehendak Allah tanpa menegaskan kemurahan, cinta dan ikhlas. Begitu juga dalam perbuatan, mereka [Asy’ariyah dan filosof] menganggap semua makhluk sama di hadapanNya, tetapi tidak membedakan antara kehendak, cinta dan syukur.

 Mereka sebenarnya mengambil posisi yang jauh lebih buruk daripada Mu’tazilah dan lainnya yang mendukung qadar (free will). Sebenarnya, orang-orang pendukung free will ini menyertakan kepentingan yang besar terhadap perintah dan larangan, janji dan ancaman, ta’at pada Allah dan RasulNya, dan menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat buruk. Namun, Mu’tazilah tersesat dalam masalah qadar. Mereka salah mempercayai bahwa jika mereka menegaskan kehendak kreatif Tuhan yang universal, segala kekuasaan dan kreativitasNya terhadap segala sesuatu itu berakibat penghinaan yang tak bisa disetujui terhadap keadilan dan kebijaksananNya. Mereka telah melakukan kesalahan dalam keyakinan.

0 komentar:

Post a Comment